Jumlah aktuaris di Indonesia masih terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Pada akhir 2018, riset membuktikan bahwa hanya terdapat 500 aktuaris di Indonesia yang terdiri dari 300 aktuaris penuh dan 200 aktuaris muda. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang sebanyak 250 juta orang. Padahal menurut Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), Indonesia membutuhkan setidaknya 3.000 aktuaris untuk melayani 250 juta penduduk Indonesia. Aktuaris juga merupakan profesi yang penting untuk perkembangan sebuah industri, khususnya industri keuangan.

Universitas Pelita Harapan (UPH) sebagai salah satu Universitas di Indonesia yang memiliki konsentrasi Aktuaria pada Program Studi (Prodi) Matematika sadar akan kondisi itu. Maka dari itu, pada 28 Agustus 2019, di Kampus UPH Lippo Village, Prodi Matematika UPH mengadakan Talk Show bertajuk “Facing The Future By Innovative Academic Professional Experience”.

Talk Show ini menghadirkan Dr. Helena Margaretha sebagai moderator dari beberapa pembicara yang hadir, antara lain Felix Lo, S. T, AAAIK, ANZIIF (Assoc) CIP, Tagor Uktolseja, S. T., AAIK, CRGP, FSAI, Grady M. Oktavian, Kie Van Ivanky Saputra, Ph. D, dan Ronald Sajuti, AAI-K, FSAI. Tujuan dari Talk Show ini agar mahasiswa Prodi Matematika tertarik dengan profesi Aktuaria sejak dini dan memahami program Co–Operative Education (Co-Op) yang dapat menjembatani mahasiswa dengan dunia profesional.

Pengalaman dari Grady M. Oktavian sebagai salah satu mahasiswa Prodi Matematika yang telah menjalani program Co-Op membuka Talk Show ini. Melalui Co-Op, Grady mengambil kesempatan magang di Adira Insurance. Grady mengakui bahwa banyak manfaat dan nilai yang bisa dia ambil melalui magang ini.

“Sebenarnya terdapat 2 pilihan yang harus saya pilih saat itu, antara melakukan kerja magang atau mengerjakan tugas akhir. Akhirnya, saya memilih untuk kerja magang di Adira Insurance karena saya penasaran dunia profesional itu seperti apa. Dengan kerja magang ini saya juga dapat mempertanggungjawabkan sertifikasi serta teori yang sudah saya peroleh dari kampus”, aku Grady.

Tagor Uktolseja, Actuary and Planning Division Head sekaligus supervisi Grady di Adira Insurance menambahkan bahwa dengan adanya program Co-Op ini mahasiswa tidak hanya padat secara teori, tetapi juga memperoleh hal-hal baru yang tidak dapat diperoleh di kampus.

“Nyatanya dalam dunia profesional, aktuaris tidak hanya bergelut dengan pekerjaan aktuaria, tetapi juga harus bertemu dan berinteraksi dengan orang lain, mencari data sendiri, dan melakukan cleansing data yang tidak mungkin diajarkan di kampus”, ujar Tagor Uktolseja.

Setuju dengan perkataan Tagor Uktolseja, Felix Lo mengungkapkan, “Saya senang dengan program Co-Op ini, karena dengan adanya program ini mahasiswa dapat beradaptasi dari dunia kuliah menuju dunia profesional”.

Dengan pesatnya perkembangan industri dan adanya program Co-Op ini, sekarang generasi muda juga dituntut untuk berbeda dan lebih baik dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Sama halnya dengan lulusan Aktuaria yang harus lebih unggul dibandingkan dengan lulusan-lulusan dulu.

“Lulusan Aktuaria saat ini harus lebih maju dan unggul dari lulusan zaman dulu. Harapannya tidak hanya memiliki modal teori, nilai, dan IPK yang baik, tetapi juga sudah memiliki pengalaman kerja selayaknya profesional”, tutur Kie Van Ivanky Saputra.

Di akhir acara, para mahasiswa juga dibekali dengan tips untuk magang di perusahaan yang tepat dan menjadi Head Actuaria seperti dirinya.

“Mahasiswa harus pintar untuk memilih perusahaan magang yang dituju. Pastikan perusahaan tersebut memiliki departemen Aktuaria. Lalu, peluang karir di Aktuaria masih besar sehingga perambatan karirnya cepat, hanya dalam waktu beberapa tahun sudah bisa menjadi Head Actuaria”, tegas Ronald Sajuti.