28 August 2019 – Jakarta, Indonesia - Sadar akan dampak dari disrupsi terhadap ekonomi global dan beberapa negara termasuk Indonesia, Jokowi, Presiden Indonesia mendorong masyarakat untuk meningkatkan daya kompetitif nya akan sains dan teknologi. Presiden Jokowi pada saat pidato kenegaraannya dalam rangka merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-74, menuturkan bahwa kebutuhan akan sumber daya manusia unggul dibutuhkan untuk terbebas dari ketergantungan SDA. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia adalah salah satu prioritas utama Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi dalam lima tahun ke depan.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Indonesia membutuhkan reformasi sistem pendidikan dan institusi vokasi yang disesuaikan dengan kemampuan yang diperlukan oleh pasar negara berkembang yang akan dimulai pada 2020. University of Technology Sydney (UTS) berkolaborasi dengan Jurusanku mengadakan lokakarya mengenai problem-solving untuk membantu siswa SMA menentukan arah karir mereka di masa mendatang. Lokakarya ini menghadirkan dua akademisi dari UTS yaitu Dr David Bond dan Dr Wayne Brookes, juga CEO sekaligus Founder dari Jurusanku yaitu Ina Liem sebagai pembicara. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu peserta untuk membuka wawasan mereka dalam memilih karir di masa mendatang. Pada lokakarya ini, peserta juga belajar untuk memecahkan masalah yang ada pada lingkungan mereka, seperti masalah kemacetan lalu lintas Jakarta, dengan menggunakan pendekatan multidisiplin.

“Kemampuan memecahkan masalah sangat penting dimiliki oleh generasi muda di zaman ini – mereka dituntut untuk memiliki daya inovasi yang tinggi dalam memecahkan suatu permasalahan. Kita harus berinovasi atau menambah added value dalam memberi servis, karena kita sudah masuk kedalam ekonomi inovasi. Kita harus terus berinovasi untuk bertahan di dunia saat ini sebagai layaknya entrepreneur,” kata Ina Liem, Pendiri dan CEO dari Jurusanku. Banyak siswa ingin menjadi entreprenur namun tidak tahu apa yang menjadi tujuan dan masalah apa yang mereka ingin atasi. Pendidikan di luar negeri, khususnya UTS, saat ini menawarkan berbagai subyek di bidang kewirausahaan. Selain itu, menurut Ina Liem, kewirausahaan juga lahir dari kolaborasi dan dari latar belakang dan pemikiran yang beragam.”

 

Ada beberapa bidang karier di masa mendatang yang ditawarkan oleh UTS Business School;  yaitu teknologi, perspektif global, data, dan keterampilan yang dapat di transfer. Dr David Bond, Senior Lecturer dari UTS Business School menuturkan, “Banyak peluang yang akan lahir dimasa depan, sehingga kolaborasi dari berbagai ragam ilmu juga diperlukan. Perkembangan data memungkinkan kita untuk mengerti apa yang terjadi di industri saat ini dan penting untuk bisnis. Yang terpenting adalah bagaimana menggunakan data dan membuat keputusan dari analisa data tersebut untuk memberikan dampak bagi orang lain. Bagi banyak karir, juga penting untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dalam bisnis dan kerja sama tim. Melihat peluang tersebut, UTS Business school menerapkan pendekatan seperti perspektif yang berfokus pada masyarakat, pendekatan berpikir secara terstruktur, menemukan masalah dan mencari solusi, prototipe dan pengujian konsep terhadap pengguna, dan juga mengimplementasi dan memperbaiki solusi secara bertahap.”

Lokakarya ini mengaitkan beberapa prioritas yang diidentifikasi oleh Rencana Kerja Pemerintah Indonesia 2020, termasuk memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia, peluang kerja, dan peningkatan infrastruktur. Para peserta sangat antusias ketika berjalannya lokakarya dan mencetuskan banyak elaborasi ide baru dari berbagai perspektif disiplin ilmu, seperti pengaturan regulasi baru, Smart City, dan branding. Hasil elaborasi ide-ide tersebut adalah hasil dari diskusi dengan sesama anggota tim dari latar belakang yang berbeda seperti yang diterapkan pada metode belajar di UTS.

 

Perkembangan teknologi di dunia kerja akan menciptakan 133 juta pekerjaan baru di berbagai industri. Dari artificial intelligence engineer hingga drone traffic manager, jalur karier potensial baru ini akan membutuhkan kombinasi keahlian teknis dan keterampilan abad ke-21 yang lebih luas, termasuk kreativitas, pemikiran kritis, dan komunikasi antar pribadi. Indonesia saat ini memimpin kawasan Asia-Pasifik dalam penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan teknologi baru lainnya.  Menurut perusahaan konsultan manajemen McKinsey & Company, adopsi teknologi ini di Indonesia diharapkan dapat menciptakan 22 juta lapangan kerja baru dalam tiga tahun ke depan.

“Pelajar Indonesia yang dapat menciptakan masyarakat dan lingkungan menjadi tempat yang lebih baik, dan dapat menggabungkan keahlian teknis dengan keterampilan abad ke-21 – seperti pemecahan masalah, akan memiliki peluang karir yang baik di masa depan. Mereka harus datang dengan berbagai solusi dari berbagai latar belakang dengan menerapkan, menciptakan kembali, dan memulai kembali ide,” kata Dr Wayne Brookes, Wakil Kepala Sekolah - Pengajaran & Pembelajaran dari Fakultas Teknik dan IT, UTS.

UTS adalah Universitas muda nomor satu di Australia (di bawah 50 tahun) yang terkenal dengan metode pengajarannya yang inovatif.Banyak siswa memulai perjalanannya di UTS dengan mendaftar di UTS Insearch, jalur menuju UTS, di mana mereka mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk sukses dalam studi universitas mereka dan seterusnya. Di UTS Insearch, siswa dapat memilih dari berbagai kursus bahasa Inggris (jika diperlukan), dan program akademik yang dapat membantu mereka mempercepat studi mereka ke tahun kedua di UTS (tergantung pada nilai dan program yang dipilih).