Matematika identik dengan kesulitan dan kerumitannya yang membuat setiap orang yang mempelajarinya pusing. Banyaknya rumus, notasi, dan berbagai angka yang rumit membuat sebagian besar orang tidak menyukai, bahkan enggan mempelajari lebih dalam ilmu yang satu ini. Namun, apakah kalian tahu? Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang penting dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah geometri, yaitu ilmu matematika yang mempelajari untuk mengukur jarak antara suatu titik dengan titik lainnya. Mungkin sebagian besar orang bahkan tenaga pengajar sekali pun hanya mengetahui geometri yang biasa ditemukan di bangku sekolah. Nyatanya, Geometri memiliki banyak macam, salah satu yang jarang dibahas adalah geometri Taxicab.

“Geometri Taxicab ini termasuk hal yang baru dalam ilmu matematika. Jadi, belum banyak orang, sekalipun guru yang mengetahui hal ini. Tentunya Geometri Taxicab ini sangat memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhananya adalah aplikasi Gojek, Grab, ataupun transportasi online lainnya. Mereka dalam menghitung jaraknya, pasti menggunakan Geometri Taxicab ini”, jelas Kie Van Ivanky Saputra, Ph.D. Ketua Program Studi Matematika Terapan, Fakultas Sains dan Teknologi (FaST) UPH.

Walaupun sedikit lebih kompleks dari geometri biasa, Ivanky Saputra menyatakan bahwa Geometri Taxicab ini hasilnya akan jauh lebih sederhana dan lebih masuk akal untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga berharap agar para guru yang mengikuti workshop ini dapat membagikan ilmu tentang Geometri Taxicab ini kepada para siswanya.

Penjelasan tersebut disampaikan kepada guru-guru dari 11 SMA seJabodetabek, dalam workshop Infinitics 3 dengan tema “Beyond The Finite, Break The Limit”, yang berlangsung pada 24 hingga 26 Oktober 2019, di Kampus UPH Lippo Village.  Seminar yang diadakan ikatan mahasiswa Program Studi Actuarial and Applied Mathematics UPH ini bertujuan untuk mensosialisasikan bidang studi matematika sebagai ilmu yang dapat mendukung kehidupan manusia sehari-hari.

Tidak hanya guru yang dibekali dengan ilmu matematika terapan, para siswa SMA pun memperoleh hal serupa melalui workshop interaktif yang disampaikan oleh Koding Next, sebuah institusi pendidikan yang diundang panitia untuk mengajarkan keterampilan digital dari teknologi terbaru. Lebih dari 100 siswa SMA dari berbagai daerah ikut dalam workshop yang digelar pada Infinitics 3 ini. Para siswa diajarkan membuat business card dengan menggunakan program AR (Artificial Recognition), dimana secara tidak langsung para siswa dituntut untuk melakukan coding. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu matematika tidak berdiri sendiri, melainkan dilengkapi dan bersinggungan dengan ilmu lainnya, salah satunya adalah coding atau bahasa pemprograman computer.

Baik guru maupun siswa peserta worshop mengaku sangat beruntung mengikuti kegiatan ini. diantaranya Pak Saujung, guru SMA Dian Harapan, mengatakan workshop yang diberikan  berbeda karena sangat membuka wawasan dalam ilmu matematika. “Saya jadi bisa menyampaikan ilmu baru yang saya peroleh dari Workshop ini kepada para siswa”, tutur Saujung.

Sementara, pujian juga disampaikan Albert, siswa Kelas 12 SMAK 4 Penabur, yang baru pertama kali mengenal coding. “Satu kata untuk acara Infinitics dan UPH, keren! Saat Workshop saya mendapatkan informasi yang belum saya ketahui sebelumnya. Saya jadi bisa membuat code AR melalui business card yang saya buat. Pembelajaran ini kemungkinan besar bermanfaat bagi kehidupan saya saat ini maupun di masa yang akan datang”, ujar Albert.

Rangkaian acara Infinitics 3 tidak berhenti sampai workshop dan seminar saja, tetapi dimeriahkan dengan berbagai kompetisi tingkat SMA yang terdiri dari Mathematics Olympiad, Mathematics Intelligence Race, dan Mathematics Modeling.