Kreativitas merupakan modal bagi setiap individu yang harus diasah sejak dini terlepas dari industri yang digelutinya untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Pada umumnya kreativitas lekat dengan bidang yang berbau seni. Nyatanya, kreativitas sudah merambah dalam industri pangan.

Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) ingin ikut andil dalam mengasah kreativitas sejak dini, khususnya dalam industri pangan melalui kompetisi Inovasi Bersyarat yang diikuti oleh 10 SMA dengan 16 produk inovasi pangan. Uniknya, kompetisi ini mensyaratkan penggunaan bahan dasar utama yang cukup jarang diolah menjadi makanan sehari-hari, seperti labu kuning dan pisang kepok putih.

“Alasan kami memilih kedua bahan tersebut karena, kedua bahan ini umum dan mudah ditemukan, tetapi masih jarang ada orang yang mengolahnya menjadi produk pangan. Jadi, bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta”, ungkap Dimas – Ketua acara Food Explore 12.

Kompetisi yang digelar pada 31 Oktober 2019, di Kampus UPH Lippo Village ini berlangsung meriah dan ramai. Antusias dari para pengunjung pun dapat dirasakan ketika mereka menikmati dan mencicipi produk inovasi pangan yang dibuat oleh peserta. Ada 16 inovasi pangan yang dihasilkan para siswa SMA, 3 diantaranya minuman, 1 ice cream dan 12 jenis makanan.

Umumnya produk inovasi makanan yang dihasilkan cukup unik dan enak, namun ada satu yang paling  menarik perhatian pengunjung, yang dibuat oleh SMA Regina Pacis Bogor. Produk pangan yang dibuat dinamakan Ramen Katsu, terbuat  dari labu kuning untuk ramen dan roti yang dilapisi labu kuning untuk katsu.

“Pada kompetisi ini, kami memilih untuk membuat ramen katsu yang kami transformasikan menjadi dessert. Bahan utama yang kami gunakan adalah labu kuning untuk ramennya, dan memanfaatkan sari dari labu kuning tersebut untuk membuat kuah ramennya. Katsunya kami ganti dengan roti yang dilapisi dengan tepung panir. Tidak sampai disitu saja, kami menggunakan teknik molecular gastronomy untuk membuat makanan ini”, tutur Angie.

Menurut Lea, tim dari SMA Regina Pacis, dia mulai tertarik dengan bidang inovasi pangan saat mengikuti kompetisi ini. Selain dapat mengasah kreativitas, menurutnya, kompetisi ini dapat menjadi solusi menghadapi krisis pangan yang mungkin saja terjadi.

Produk inovasi pangan yang dibuat oleh SMAN 6 Jakarta pun tidak kalah menarik, yaitu ice cream berbahan dasar labu kuning. Tidak hanya membuat kejutan dengan rasanya yang memanjakan lidah, tetapi mereka juga peduli dengan kandungan gizi di dalamnya.

“Sebelum kami menciptakan ice cream ini, kami melakukan riset terlebih dahulu tentang kondisi gizi anak-anak di Indonesia. Ternyata sangat disayangkan masih banyak anak-anak yang kekurangan gizi. Oleh karena itu, kami membuat inovasi ice cream dari labu kuning ini. Ice cream merupakan makanan yang disukai anak-anak, selain itu kami membuatnya dari labu kuning, sehingga kandungan gizinya juga terjamin”, ujar Ahmad Zaelani, anggota tim dari SMAN 6 Jakarta.

Ada pun penilaian kompetisi ini terdiri dari proposal, presentasi, produk, dan dekorasi booth.  Setiap tim wajib menyediakan produk yang telah dibuat untuk disuguhkan kepada para pengunjung yang hadir. Selain ditawarkan untuk dicicipi pengunjung, peserta juga harus memberikan penjelasan tentang cara pembuatan dan manfaat dari pangan yang dibuat. Nantinya, para pengunjung tersebut bisa memilih produk pilihan mereka untuk selanjutnya menjadi acuan juri untuk menentukan pemenang. Kompetisi ini merupakan bagian dari acara Food Explore 12 yang di dalamnya juga terdapat berbagai kompetisi lainnya seperti National Foodpreneur Competition dan Speech Competition.

Berikut ini merupakan pemenang kompetisi Inovasi Bersyarat:

1.       Binus School Serpong – Bakpao Labu

2.       SMAK 6 Penabur Asixfood 2 – Siomay Labu Kuning

3.       SMA Tarakanita Gading Serpong Tim 1 – Boumkin

4.       SMA Pahoa – Cumos Bite (Best Video)

5.       SMA Tunas Bangsa – Pumpkin Fritters Churos (Best Product)