Dalam rangka mengatasi perilaku individualistis yang semakin marak dilakukan sebagai dampak dari globalisasi, Psychology Village 11 UPH mengupayakan perilaku prosocial, salah satunya adalah membekali mahasiswa tentang ilmu prosocial dengan Talk Show bertajuk ‘Level Up Your Prosocial Behaviour!’, bealangsung pada 12 Maret 2020, di Kampus UPH Lippo Village, Tangerang.

“Pada dasarnya perilaku prosocial merupakan perilaku yang mementingkan orang lain. Jadi, kita membantu untuk kepentingan orang lain, bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri. Orang yang melakukan perilaku prosocial ini tidak memperhitungkan untung dan rugi yang akan didapatkan. Alasan utama seseorang ingin melakukan prosocial ini karena adanya kebahagiaan emosional (self reward), dan senang bisa membantu orang lain yang di luar kepentingannya sendiri,” ujar Dra. Eunike Sri Tyas Suci, Ph.D – Psikolog.

Terdapat beberapa faktor baik internal, maupun eksternal yang mampu memengaruhi perilaku prosocial ini. Faktor internal yang dimaksud meliputi kepribadian, gender, dan suasana hati (mood). Sedangkan, faktor eksternalnya adalah in group or out group, urban/rural, dan jumlah penonton.

“Dalam dunia psikologi terdapat beragam jenis kepribadian, salah satunya adalah altruis. Orang yang memiliki kepribadian altruis akan cenderung suka menolong orang lain. Dilihat dari sisi gender juga berbeda, laki-laki cenderung membantu secara cepat, sedangkan perempuan membantunya bertahap dan sifatnya long term. Suasana hati (mood) juga berpengaruh dalam perilaku prosocial, kalau mood kita sedang baik, pasti sensibilitas untuk menolong lebih tinggi. Kemudian faktor dilihat dari sisi eksternal, seorang cenderung menolong orang yang ada di dalam grupnya, lalu orang daerah cenderung suka menolong dari orang kota, terakhir adalah jumlah penonton, semakin banyak jumlah orang yang ada, maka orang semakin tidak mau menolong. Ini disebut sebagai Bystander effect,” jelasnya.

Perilaku prosocial ini juga tetap berkaitan dengan era yang serba digital ini dimana hampir seluruh orang menggunakan media sosial. Kini media sosial pun dapat dijadikan sebagai sarana untuk melakukan perilaku prosocial. Contoh nyatanya adalah ketika ada bencana alam dan banyak korban yang membutuhkan bantuan berupa barang, lalu dengan adanya media sosial banyak orang yang mengumpulkan massa untuk berdonasi barang yang dibutuhkan tersebut.

“Namun, harus diakui bahwa kita juga harus berpikir kritis dan meninjau terlebih dahulu sebelum menolong,serta memikirkan dampak apa yang akan dihasilkan. Salah satu contoh yang relatable sekarang ini adalah banyak orang yang menyebarkan berita hoax di grup Whatsapp. Sebenarnya orang-orang yang menyebarkan hoax ini tujuan utamanya ingin membantu dan memiliki prosocial behavior ini. Namun, orang-orang tersebut tidak memeriksa terlebih dulu tentang kebenaran berita tersebut,” tambahnya.

Talk show yang dihadiri oleh 50 mahasiswa psikologi UPH angkatan 2017-2019 ini ditutup dengan sebuah film pendek yang mencerminkan tindakan nyata prosocial, serta bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal yang paling sederhana.