Aktuaris menjadi salah satu profesi yang dibutuhkan oleh banyak sektor industri, khususnya perusahaan asuransi. Hal ini juga didukung dengan adanya keputusan pemerintah yang mewajibkan seluruh perusahaan asuransi untuk memiliki setidaknya satu orang aktuaris. Hingga saat ini hanya terdapat 500 aktuaris dari total penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta orang. Minimnya jumah SDM (Sumber Daya Manusia) menjadikan profesi ini sebagai salah satu profesi yang banyak dicari dan memiliki peluang karier menjanjikan

Dilansir dari QS World University Rankings dan Macquarie University (Australia) menyatakan kebutuhan akan profesi sebagai Aktuaris diprediksi naik sebesar 10% di tahun 2020 ini.

Aktuaris sendiri merupakan seorang ahli yang dapat mengaplikasikan teori matematika, probabilita dan statistika, serta ilmu ekonomi dan keuangan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan aktual pada sebuah bisnis khususnya yang berhubungan dengan risiko (https://www.aktuaris.or.id/).

Tidak hanya itu, menurut Society of Actuaries dan Casuality Actuarial Society, sebagai profesi yang menjanjikan, seorang aktuaris memiliki tiga peran penting dalam sebuah perusahaan, yaitu melakukan evaluasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada acara yang akan diselenggarakan, menyusun strategi kreatif untuk mengurangi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan, dan menekan dampak yang akan muncul dari kejadian tidak terduga.

Tentu tidak sembarang orang bisa menjadi aktuaris. Profesi ini perlu menguasai beberapa ilmu, seperti matematika, statistika, keuangan, akuntansi hingga pemrograman komputer. Bahkan seorang aktuaris harus melewati dan lulus ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI).

Ilmu yang wajib dipelajari oleh seorang aktuaris adalah ilmu aktuaria dan salah satu unversitas yang sudah memiliki program studi (prodi) ini yaitu Universitas Pelita Harapan (UPH). Di bawah naungan Fakultas Sains dan Teknologi (FaST), prodi Aktuaria dan Matematika Terapan membekali para mahasiswa secara komprehensif, yang salah satu keunggulannya pada kurikulum dengan beberapa matakuliah khusus untuk mempersiapkan mahasiswa mengambil sertifikasi dari Society of Actuary (SOA) yang sangat diperlukan untuk terjun ke profesi aktuaris. Saat ini, UPH adalah satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki penyetaraan penuh VEE (Validation by Educational Experience) dari SOA.

 

Selain dibekali teori dan konsep, mahasiswa juga didorong untuk mempraktekan ilmu di kelas dan menambah pengalaman di dunia kerja sejak kuliah, melalui program Co-operative Education (Co-Op) sebagai pelengkap kurikulum. Program Co-Op sendiri merupakan sebuah metode terstruktur yang menggabungkan pendidikan berbasis kelas dengan pengalaman kerja praktis. Co-Op melibatkan kerja sama antara mahasiswa, perguruan tinggi dan dunia industri. Program Co-Op ini dapat diambil selama tiga semester secara bergantian dimulai di semester 5, dan di semester 6 kembali ke kampus. Demikian bergantian hingga semester 10 mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya. Pengalaman magang ini bisa dilakukan di tiga perusahaan atau tiga bidang yang berbeda, sehingga mereka dapat mengenal passion mereka dan memperluas relasi bisnis. Tidak hanya itu, mahasiswa juga mendapatkan kompensasi berupa gaji yang sesuai selama magang, sesuai ketentuan di perusahaan tempat magang.

Dengan menghadirkan prodi Aktuaria dan Matematika Terapan, tentunya UPH siap menghasilkan   Aktuaris berkualitas  yang sangat dibutuhkan industri saat ini dan di masa depan.