Jakarta, 4 Mei 2020 – Data dari LinkedIn Opportunity Index 2020 mengungkapkan bahwa 83 persen orang Indonesia percaya bahwa memiliki koneksi yang tepat merupakan langkah penting untuk maju dalam kehidupan. Namun, hanya 18 persen orang Indonesia yang berusaha membangun jaringan (network) profesional mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak yang tidak yakin bagaimana cara membangun jaringan mereka.

Di tengah pandemi global COVID-19, menjadi penting bagi para pekerja profesional untuk tetap membangun hubungan dengan jaringan mereka dan membentuk koneksi baru, untuk mendapatkan akses ke peluang sekarang, dan persiapan untuk masa depan.

“Sebagai komunitas global, saat ini kita menghadapi masa yang tidak pasti. Kami melihat organisasi dan pekerja di seluruh dunia terdampak efeknya. Selama masa-masa sulit seperti ini, kami percaya bahwa yang terpenting adalah membangun jaringan yang lebih kuat. Hal ini berpotensi membantu kita dalam mencari peluang baru bahkan saat kita menghadapi situasi ini hingga pulih dari krisis ini,” kata Olivier Legrand, Managing Director LinkedIn Asia Pacific.

Di Indonesia, Generasi Z dan para pria menganggap kurangnya jaringan kerja sebagai penghalang terbesar mencapai peluang.

Dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, kurangnya jaringan dan koneksi merupakan penghalang yang lebih besar bagi Generasi Z (26%) dan Millenial (25%), dan lebih terasa di kalangan pria (26%) dibandingkan dengan perempuan (21%). Kurangnya jaringan terutama menjadi penghalang bagi mereka yang mencari pekerjaan yang lebih stabil, ingin memanfaatkan keterampilan mereka, atau bahkan mendirikan bisnis.

Mereka yang memiliki jaringan dan koneksi yang lebih kuat memiliki keuntungan dalam mengakses peluang yang mereka inginkan. Di LinkedIn, inilah yang di sebut dengan “Network Gap” (Kesenjangan Jaringan Kerja). LinkedIn juga menemukan bahwa orang-orang dengan jaringan yang kuat umumnya lebih optimis tentang masa depan mereka daripada orang- orang dengan jaringan yang lebih sedikit atau kurang beragam. Oleh karena itu, memperkecil kesenjangan jaringan adalah kunci untuk memastikan akses yang setara bagi semua orang sehingga mereka dapat meraih peluang.

 

Mempersempit kesenjangan jaringan kerja adalah upaya komunitas.

Olivier mengatakan, "Kita semua memiliki peran untuk mengatasi kesenjangan jaringan yang ada – baik bagi orang-orang yang baru memulai karir nya, atau bagi seorang pekerja profesional yang berpengalaman."

Melalui platform LinkedIn, para profesional dari seluruh dunia dapat menjangkau banyak orang, mencari nasehat, dan belajar dari orang lain. Para profesional muda harus berhubungan dengan orang lain jika mereka membutuhkan bantuan. Bagi mereka yang berada dalam posisi untuk memberikan saran atau dukungan, didorong untuk melakukan hal yang sama.

Shabrina KoeswologitoDigital Manager di Mindshare dan Penulis, mengatakan, "Membangun jaringan merupakan bagian dari kehidupan. LinkedIn adalah salah satu platform yang memungkinkan saya untuk membangun koneksi baru dan memperluas jaringan saya. Saya berkontribusi kepada jaringan saya dengan berbagi pengetahuan yang berharga kepada para profesional lain – melalui posting yang bermanfaat, video, atau bahkan berbagi artikel. Saya juga menerima tips membangun koneksi yang baik dari mentor saya dan profesional lainnya di LinkedIn. Misalnya, untuk menjadi proaktif dan percaya diri dalam membangun jaringan dengan orang baru. Saya percaya ada tiga hal yang perlu diprioritaskan ketika membangun jaringan dengan seseorang: pertama, selalu memberikan lebih banyak daripada yang Anda terima, kedua, pastikan untuk menghargai waktu orang lain, terakhir, personalisasikan pesan Anda agar relevan dengan orang yang ingin dituju."

Ananda Nadya, Senior UX Researcher di Tokopedia & LinkedIn Spotlight 2019, mengatakan, "Sebagai seorang peneliti, saya harus menjaga hubungan yang baik dengan orang lain karena salah satu peranan dalam pekerjaan saya mengharuskan  untuk dapat berkoneksi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di era digital saat ini, membangun jaringan dan koneksi juga dapat dilakukan secara online. Hal ini sangat penting, terutama karena kondisi pandemi global saat ini memberikan dampak bagi banyak industri. LinkedIn membantu saya untuk dapat tetap terhubung dengan yang lain, dan memungkinkan saya untuk mengakses informasi yang relevan dengan karir saya. Selain itu, saya dapat bertukar ide dengan profesional lain secara global terlepas dari adanya jarak dan perbedaan waktu."

Selain itu, beberapa fitur seperti LinkedIn Groups dapat membantu para profesional untuk saling terhubung, dan belajar dari para profesional lain di industri yang sama yang mereka inginkan. Setiap anggota LinkedIn juga dapat menggunakan fitur Skills Assessments, yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kompetensi dalam keterampilan yang berbeda, serta membantu para perekrut menemukan kandidat yang memiliki keterampilan yang mereka butuhkan. Hal ini dapat menjadi cara untuk menjembatani kesenjangan bagi setiap anggota yang merasa kurang cukup memiliki jaringan.

Saat ini, LinkedIn juga berkomitmen untuk menghubungkan beragam bisnis dengan kebutuhan perekrutan yang mendesak bagi orang-orang yang memiliki keterampilan yang tepat melalui akses perekrutan gratis.  Talent marketplace initiative diluncurkan di seluruh dunia untuk menawarkan lowongan pekerjaan gratis dan mempromosikan pekerjaan mendesak dan mempekerjakan sumber daya untuk membantu industri penting di garis terdepan sehingga mereka dapat menemukan bakat yang dibutuhkan dengan cepat.

###

 Referendum

LinkedIn menghubungkan para profesional dunia untuk menjadikan mereka lebih produktif dan sukses dan mengubah cara perusahaan mempekerjakan, memasarkan, dan menjual. Visi kami adalah menciptakan peluang ekonomi untuk setiap anggota angkatan kerja global melalui pengembangan berkelanjutan Grafik Ekonomi pertama di dunia. LinkedIn memiliki lebih dari 675+ juta anggota dan memiliki kantor di seluruh dunia.

 

CATATAN EDITOR

LinkedIn menugaskan perusahaan riset pasar independen, GfK untuk melakukan penelitian ini antara September dan Oktober 2019. Survei ini dilakukan pada responden di rentang usia 18 hingga 65 tahun di 22 negara melalui wawancara online.

Survei ini memiliki lebih dari 30.000 responden:

  • Amerika Utara: Kanada, Amerika Serikat
  • Amerika Latin: Brasil, Meksiko
  • Timur Tengah: Uni Emirat Arab
  • Eropa: Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris
  • Asia Pasifik: Australia, Cina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura

Kelompok usia diklasifikasikan sebagai:

●       Gen Z (18 - 22 tahun)

●       Milenium (23 - 38 tahun)

●       Gen X (39 - 54 tahun)

●       Boomer (55 - 65 tahun)

 

Metodologi

LinkedIn Opportunity Index mengukur tingkat kepercayaan pasar terkait dengan ekonomi dan pengejaran peluang dan menggunakan "100" sebagai skor dasar. Skor yang lebih tinggi menunjukkan optimisme yang lebih besar dari responden yang tinggal di negara tertentu.

Tujuh faktor yang berkontribusi terhadap ukuran peluang gabungan adalah sama dengan Indeks Peluang LinkedIn 2018, dan adalah sebagai berikut:

Persepsi seputar faktor sosial ekonomi dan gaya hidup

  • Prospek ekonomi selama 12 bulan ke depan
  • Pandangan tentang situasi keuangan responden selama 12 bulan ke depan
  • Kualitas hidup khususnya kebahagiaan
  • Kualitas hidup dibandingkan dengan generasi sebelumnya / orangtua

Persepsi seputar peluang:

  • Ketersediaan peluang di pasar
  • Penilaian tentang aksesibilitas peluang selama 12 bulan ke depan
  • Keyakinan dalam mencapai kesuksesan

Survei ini dilakukan mulai September hingga Oktober 2019 dan mewakili pandangan dunia responden survei pada waktu itu.