Pada tanggal 25 Juni 2019, UPH dan Calvin College menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) yang akan membuka pintu kerja sama antar kedua universitas ke depannya. Dalam kesempatan ini, President of Calvin College, Dr. Michael K. Le Roy, juga berbicara dengan jajaran dosen UPH tentang pentingnya integrasi iman Kristen dan pendidikan. Sebagai universitas yang telah berdiri selama 143 tahun, pengalaman Calvin College dalam mendidik generasi muda sudah dimulai jauh sebelum UPH. Namun, Dr. Roy mengakui bahwa dengan dinamika yang ada di Indonesia, perkembangan UPH bisa dibilang jauh lebih cepat daripada Calvin College. Karena itulah, Calvin melihat UPH sebagai partner kerja sama yang menjanjikan, dalam misinya menjalankan pendidikan Kristen di seluruh dunia.

“Kita selalu berusaha mengintegrasikan iman Kristen dengan apa yang kita ajarkan di kelas. Namun, sejauh ini kita lebih fasih mengintegrasikan pendidikan dengan konteks kekristenan di Amerika dan Kanada. Kita sadar bahwa kita harus mengambil bagian dalam gerakan Kristen secara global. Karena itulah, kita butuh rekan kerja di seluruh dunia, agar kita dapat saling berbagi pengalaman dan saling membantu. Inilah mengapa kita butuh bantuan UPH,” jelas Dr. Roy.

Dalam seminar yang membahas dampak pendidikan Kristen terhadap kehidupan mahasiswa dan kehidupan masyarakat ini, Dr. Roy menjabarkan tiga tantangan yang dihadapi Calvin dalam memegang prinsip Kristen saat proses belajar-mengajarnya: modernisme, individualisme liberal, dan postmodernisme. Modernisme menjadikan manusia pusat realita, dan hal ini menyebabkan ketiadaan landasan teologis dalam penemuan-penemuan ilmiah. Individualisme liberal menekankan bahwa kepercayaan seorang manusia adalah urusan pribadi dan bukan komunal. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi pendidik untuk mendiskusikan prinsip-prinsip agama dalam kelas. Kemudian, postmodernisme menekankan bahwa realita adalah hasil konstruksi sosial. Karena itu, agama juga adalah hasil konstruksi sosial, dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Sebagai universitas berbasis liberal arts, Calvin College senantiasa berusaha menekankan bahwa iman Kristen tidaklah bertentangan atau terpisah dari ilmu pendidikan yang biasanya dianggap sekuler.

Dr. Roy menekankan tiga hal yang harus dimiliki oleh sebuah universitas Kristen: jajaran pimpinan Kristen, jajaran dosen Kristen, dan adanya program-program pelatihan untuk pengajar, yang dapat me-refresh visi universitas.

Selama 25 tahun berdiri, UPH telah memberi dampak yang besar terhadap lebih dari 30,000 alumni yang datang dari berbagai negara dan latar belakang serta agama yang berbeda-beda. Sebagai universitas Kristen, penekanan pengajaran UPH selalu berpusat pada pertumbuhan karakter-karakter yang penting untuk dimiliki anak didiknya agar menjadi individu yang dapat berkontribusi banyak kepada bangsa dan negara. Integrasi karakter Kristen dalam pengajaran di kelas, beserta program-program kepemimpinan dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), telah terbukti membawa dampak baik bagi mahasiswanya, dimana  mereka dapat menjadi masyarakat berakhlak mulia sesuai latar belakang masing-masing. Diharapkan dengan kerjasama UPH dengan institusi-institusi pendidikan Kristen di berbagai belahan dunia, UPH dapat bertumbuh menjadi universitas Kristen yang berwawasan global serta yang dapat memberi dampak kepada masyarakat seluas-luasnya.