Media PT Mencerdaskan Anak Bangsa karya M. Ahwi Karuniyado menjadi langkah awalnya untuk mengembangkan media di Indonesia. Pria yang biasa dipanggil Edo ini mengaku ingin menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama. Keinginan untuk menjadi bermanfaat inilah yang mendorong untuk terus belajar, kritis,  dan  terbuka dengan berbagai peluang tanpa gengsi harus berkarier sesuai dengan gelar pendidikan yang dimilikinya, yaitu Psikologi.

Edo yang lulus Psikologi UPH pada tahun 2014 ini, menyatakan bahwa minatnya pada media, menggiringnya untuk membangun media berbasis channel YouTube dengan konten edukatif kreatif. Berawal dari Project Passion, Edo bersama rekannya, melakukan riset pada dua media luar, VOX Media dan Kurzgesagt. Mulai dari cara penyajian konten yang disajikan dengan bercerita (storytelling), hingga teknik sinematografi, dari kedua media tersebut. Bahkan, Jinri Toutiao berhasil menangkap pembaca dengan menggunakan teknologi.

“Saat masalah ini kami sadari dua brand pertama pun lahir, yakni Hipotesa dan Neuron. Hipotesa merupakan channel YouTube yang membahas politik, isu sosial, dan berkaitan dengan social science. Sedangkan, Neuron membahas mengenai kesehatan dan dunia medis secara animatif,” ungkap Edo.

Di bawah bendera PT Mencerdaskan Anak Bangsa atau widyamedia.com yang dibangun tahun 2018, Hipotesa dan Neuron,  berhasil mendapatkan lebih dari 200.000 subscribers di YouTube dalam waktu satu tahun. Dilandasi visi  go-to place saat seseorang ingin memahami apa yang sedang terjadi, Widyamedia.com menghadirkan media yang dapat menjelaskan kenapa suatu hal bisa terjadi, tidak hanya memberitahukan apa yang sedang terjadi. Ia meyakini,  saat masyarakat berhasil memahami suatu hal maka kualitas pembahasan dan diskusi pun meningkat.

Dengan visi sebesar ini, kultur yang dirancang dalam perusahaanya pun menekankan kepada transparansi, engagement dengan audiens dan tanggung jawab.

“Sebisa mungkin kami berinteraksi dengan audiens, menjelaskan siapa, kenapa dan visi yang diayomi berulang kali dan membuka informasi siapa yang bertanggung jawab terhadap konten-konten yang disuguhkan,” Jelas Edo.

Di usianya memasuki tahun kedua, Widyamedia.com berencana melahirkan brand baru yang membahas mengenai bisnis, teknologi, entertainment, dan seterusnya menjadikan ekosistem konten. Selain itu, secara bisnis kami mengikuti standar YC di mana startup akan dinilai baik saat mengalami pertumbuhan 5% setiap minggu atau yang berarti 12.6x lipat setiap tahun.

“Secara finansial, bisnis ini berawal dari angel roundseed roundseries Aseries B, dan seterusnya. Dan kita telah menyelesaikan angel round pada tahun 2019. Setiap dana yang diterima akan digunakan untuk pengembangan produk (konten, website), memperkerjakan profesional, dan pemasaran. Kita menilai startup bagaikan organisme yang harus selalu melakukan riset dan pengembangan dari feedback konsumen. Kuncinya bukan produk yang sempurnya tetapi produk yang dioptimalkan untuk pengguna dan mengakui bahwa penggunalah para ahli yang harus didengar.  Di akhir nanti, Widyamedia.com akan menjadi media holdings dengan berbagai anak perusahaan yang bergerak di bidang production house, pembuatan film baik layar lebar maupun seriesadvertising agency dan online magazine,” jelas Edo.

Apa yang dikerjakan Edo, diakui tidak terlepas dari peran networking alumni UPH.  Lebih dari 80% tim Widyamedia.com pun berasal dari alumni dan mahasiswa tingkat akhir UPH. Begitu pula dengan penasihat dan pendongkrak media sosial Widyamedia.com pun berasal dari alumni UPH. Pendidikan psikologi yang diperoleh lebih berdampak kepada kehidupan personal, khususnya  menjadi bagian dari pendewasaan.

Edo pun berpesan untuk para fresh gradute, untuk  tidak mudah menyerah. “Bertemanlah dengan kegagalan dan rendahkan diri untuk selalu belajar,” Pesan Edo.